Suasana penuh semangat terlihat di Balai Kota Semarang, tempat berlangsungnya Job Fair Inklusif 2025 yang secara khusus membuka peluang kerja bagi penyandang disabilitas.
Acara yang digelar oleh Dinas Tenaga Kerja Kota Semarang ini diikuti lebih dari 70 perusahaan nasional dan lokal yang menyediakan ratusan posisi pekerjaan untuk berbagai jenjang pendidikan.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Tenaga Kerja Semarang menyebut bahwa kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah daerah untuk membangun dunia kerja yang lebih adil dan terbuka.
“Penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk bekerja dan berkarier. Job Fair ini adalah wadah untuk menunjukkan bahwa kesempatan bisa terbuka bagi siapa pun, tanpa diskriminasi,” ujarnya.

Ratusan Lowongan Dibuka untuk Semua Kalangan
Job Fair kali ini menghadirkan lebih dari 1.000 lowongan pekerjaan dari berbagai sektor industri, mulai dari manufaktur, perhotelan, ritel, hingga teknologi digital.
Menariknya, sekitar 20 persen dari total posisi yang tersedia dialokasikan secara khusus untuk calon tenaga kerja disabilitas.
Perusahaan-perusahaan besar seperti Alfamart, Telkom Indonesia, PT Sido Muncul, dan Trans Semarang turut ambil bagian dalam ajang ini. Mereka membuka peluang untuk posisi administrasi, customer service, operator produksi, hingga desain grafis yang ramah bagi pekerja difabel.
Selain pendaftaran langsung, peserta juga bisa memanfaatkan fasilitas pembuatan CV digital dan konsultasi karier gratis, yang disediakan di area pameran.
Hal ini membantu pelamar—terutama penyandang disabilitas—untuk lebih siap menghadapi proses seleksi kerja dan memperkenalkan potensi mereka kepada dunia industri.
Kolaborasi Pemerintah dan Komunitas Disabilitas
Job Fair inklusif ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah daerah dengan sejumlah komunitas penyandang disabilitas di Semarang, seperti Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) dan Komunitas Sahabat Difabel.
Mereka membantu memastikan bahwa acara berlangsung dengan aksesibilitas penuh—mulai dari jalur khusus kursi roda, penerjemah bahasa isyarat, hingga ruang wawancara yang ramah difabel.
Menurut Ketua PPDI Jawa Tengah, langkah seperti ini penting untuk menghapus stigma bahwa penyandang disabilitas tidak mampu bersaing di dunia kerja.
“Kami ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukan halangan untuk berprestasi. Dengan dukungan yang tepat, teman-teman difabel bisa memberikan kontribusi besar di berbagai bidang,” ungkapnya.
Cerita Inspiratif dari Pencari Kerja Difabel
Salah satu peserta, Dwi Prasetyo, penyandang disabilitas daksa asal Ungaran, mengaku antusias bisa mengikuti kegiatan ini.
Ia datang sejak pagi dengan membawa berkas lamaran dan langsung mendaftar di beberapa perusahaan.
“Saya lulusan SMK dan punya pengalaman administrasi dua tahun. Biasanya sulit dapat kesempatan wawancara, tapi di sini semua ramah dan terbuka,” katanya dengan senyum lebar.
Dwi berharap kegiatan seperti ini bisa rutin diadakan agar penyandang disabilitas di daerah lain juga mendapat kesempatan serupa.
Baginya, dukungan pemerintah dan dunia usaha adalah kunci agar lapangan kerja benar-benar bisa dinikmati secara inklusif.
Antusiasme Perusahaan dalam Merekrut Tenaga Kerja Disabilitas
Tak hanya peserta yang bersemangat, pihak perusahaan pun mengaku terkesan dengan kualitas pelamar.
Sejumlah HRD yang hadir menilai bahwa banyak penyandang disabilitas memiliki kemampuan komunikasi dan ketelitian tinggi—dua hal yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja modern.
“Para pelamar yang kami temui hari ini luar biasa. Mereka punya semangat tinggi, dan banyak yang sudah berpengalaman. Kami yakin mereka bisa berkontribusi besar bagi perusahaan,” ujar salah satu perwakilan HR dari perusahaan logistik nasional yang ikut serta dalam ajang tersebut.
Selain itu, beberapa perusahaan juga berjanji untuk mengembangkan program pelatihan kerja khusus bagi penyandang disabilitas agar adaptasi di lingkungan kerja bisa berjalan lebih mudah dan produktif.






